Kafan yang Terhampar

Kita tidak membagi dunia dalam rumus bujur dan lintang
Apalagi menghitung titik tertinggi dan terendah bumi
dalam bahasa zenith dan nadir

Bila kafan kematian telah terhampar di kulit tanah
Jangan lagi berharap rintihan mendatangkan iba
dan doa mendatangkan ampunan

Demi jiwa yang tersiksa kesengsaraan
tapi terhibur dengan alunan cinta yang mengucurkan air madu
cinta menyatukan dirinya di kehidupan mendatang

Pernah kah engkau meneguk cahaya fajar dari cawan putih
atau mengenyam bayang-bayang matahari sore di piring-piring lautan?
Padahal di dalam dadamu berlabuh biduk kedamaian

Itulah hati
misqat cahaya yang bertutur tentang hidup dan matinya diri
Kau tidak akan kembali setelah gulungan kafan terhampar di tanah

Gumam Siapakah

Hmmm…
gumam siapakah yang terus memanggil
ketika doa telah hanyut ke hilir dosa
kecemasan telah berganti harap

Hmmm…
bulir-bulir ombak membasuh tepian pantai
serentak alam pun melantunkan lagu cinta
terkirimlah bersama arakan awan dan kicauan burung camar

Jiwa Bukan Pengembara

Jiwamu bukanlah pengembara
jiwamu memiliki tempat bersemayam
Apakah di atas kelopak mawar
ataukah di dalam buih lautan

Satu keluhan panjang yang menerobos masuk
hancurlah pintu-pintu keabadian
terbukalah pintu-pintu kefanaan

Ketika jemarimu memungut kepingan hati
ketika matamu meraup percahan tanah
janganlah menangis

Apakah Tuhan Itu?

Yaa Robbana…
mereka selalu bertanya tentang wujudMu
mereka selalu bertanya tentang rupaMu
mereka selalu bertanya tentang hidupMu
mereka selalu bertanya tentang asalMu
mereka selalu bertanya tentang zatMu
hingga mereka selalu bertanya…
apakah Engkau hidup atau mati
apakah Engkau ada atau tiada

Bila aku jelaskan wujudMu, KAU adalah aku
bila aku jelaskan rupaMu, KAU adalah aku
bila aku jelaskan hidupMu, KAU adalah aku
bila aku jelaskan asalMu, KAU adalah aku
bila aku jelaskan zatMu, KAU adalah aku
hingga aku menjawab…
akulah yang hidup dan mati, bukan DIA
akulah yang ada dan tiada, bukan DIA

Harusnya mereka bertanya kepada diri sendiri
apakah wujudku?
seperti apa rupaku?
bagaimana hidupku?
dari mana aku berasal?
apa zat pembentukku?
hingga mereka harus bertanya…
apakah aku hidup atau mati?
apakah aku ada atau tiada?

Yaa Robbana…
akal yang Kau karuniakan kepada manusia
mereka jadikan sebagai penggantiMu

Pintaku kepadaMU yang Maha Ahad dan Haq…
semoga jiwa mereka bertanya kepada ruh mereka
semoga ruh mereka bertanya kepada jasad mereka
semoga jasad mereka bertanya kepada nafas mereka
“APA ITU TUHAN?”

CintaNYA

Yaa Robbana….
ketika hati menangis
Kaulah yang Maha Memahami suaranya
ketika mata menangis
Kaulah yang Maha Mengetahui sebab lahirnya air mata

Tidaklah cinta Kau ciptakan, kecuali sebagai sebab bahagia
tidaklah derita Kau ciptakan, kecuali sebagai pelajaran

Yaa Robbana…
Kalam telah Kau hamparkan
wujudnya menjadi mutiara dan berlian
sifatnya menjadi penyejuk hati
Kedamaian itu hak di sisiMU

Tidaklah cinta Kau ciptakan, kecuali sebagai pembeda
tidaklah pembeda Kau ciptakan, kecuali sebagai kejelasan

Yaa Robbana…
syukur ku sujudkan karena sebab KerahimanMu
syukur ku senandungkan karena sebab KeperkasaanMu
Ikatlah aku dengan helai-helai KerahimanMu
karna ku tak mampu berjubah KeperkasaanMu

Tidaklah kerahiman kau ciptakan, kecuali sebagai pelembut hati
tidaklah keperkasaan Kau ciptakan, kecuali sebagai sandaran akal

Yaa Robbana…
bila cinta adalah sesuatu yang mempesonakan hati
bagilah dia menurut keadilanMu di akalku
Sungguh…
cintaMu tiada bertepi
cintaMutiada berharap balas

Jejak Kepiluan

Apakah ini sebuah mimpi yang bermain di perasaan? Ataukah sebuah realitas dari suatu keabadian?

Kuburkan aku di situ, agar darahku menyatu dengan tanah materi asalku. Jangan tanamkan nisan… dan jangan menaruh setangkai melati di atas gundukan tanah merah ini. Karena aku telah mengharapkan nisanku adalah angin… dan melati itu adalah hujan.

Sungguh, angin dan hujan akan menghapus jejak-jejak kepiluan yang pernah ada.

Previous Older Entries